Saya baru saja kembali dari liburan di Fukuoka, Jepang. Setiap kali traveling, saya selalu mengusahakan untuk menggunakan transportasi umum, terutama kereta bawah tanah (subway/mrt). Kalau naik bus, sering kali salah arah atau kelewatan halte tempat. Sebaliknya, kalau naik subway, kita tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Itulah alasan mengapa saya jauh lebih memilih subway.
Menariknya, subway di setiap negara dan kota ternyata memiliki cara penggunaan dan budaya yang cukup berbeda tanpa kita sadari.
Pertama, subway di Jepang banyak yang dikelola oleh perusahaan swasta (privat). Jadi, kita harus tahu persis stasiun tujuan kita berada di jalur (line) milik perusahaan apa sebelum membeli tiket dan naik. Hal ini mirip dengan di Kuala Lumpur (KL). Bedanya, kalau di KL perpindahan antar jalur agak jarang, di Jepang transfer antar jalur justru terbilang cukup banyak.
Selain itu, suasana di dalam subway Jepang sangat amat tenang. Saya masih ingat saat jam sibuk (rush hour) di Tokyo Line 1, semua orang memakai setelan jas rapi dan terdiam seribu bahasa, sampai-sampai saya sempat mengira sedang berada di dalam kereta menuju upacara pemakaman! Subway di Seoul sebenarnya juga tenang, tapi bedanya, di Seoul semua orang memakai earphone dan fokus menatap layar ponsel masing-masing.
Sebaliknya, di Korea, Cina, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura, sistemnya lebih simpel. Kita cukup mengingat stasiun tujuan saja saat membeli tiket. Stasiun transitnya pun banyak, sehingga mobilitas menggunakan subway terasa sangat mudah. Hanya saja, di Korea terkadang agak membingungkan saat mencari pintu keluar atau jalur transit, sedangkan di Cina rasanya agak merepotkan karena harus melewati pemeriksaan barang bawaan (baggage screening) setiap kali masuk stasiun.


Melihat semua ini, saya jadi membayangkan MRT dan LRT di Jakarta. Bukankah suatu hari nanti waktu di mana kedua moda ini saling terintegrasi dengan mulus akan tiba? Saya membayangkan masa depan di mana kita bisa pergi dari Kelapa Gading ke Senayan, atau dari Central Park (CP) ke Taman Mini, semuanya cukup dengan naik kereta bawah tanah. Ketika masa itu tiba, Jakarta pasti akan membentuk budaya transportasinya sendiri yang unik.
Apalagi wilayah penyangga seperti JABODETABEK sudah menjadi satu kesatuan wilayah aktivitas masyarakat. Jika masalah transit antar-kereta maupun integrasi dengan Busway (Transjakarta) bisa diselesaikan dengan baik, barulah era di mana orang-orang berangkat kerja tanpa motor bisa terwujud. Saya sangat penasaran kebijakan seperti apa yang sedang dipersiapkan oleh pemerintah setempat.
Di sisi lain, Singapura dan Shanghai memiliki jaringan subway yang sangat besar dan sistem transit yang sangat mudah. Tentu saja, di sana juga luar biasa padat dan melelahkan saat jam berangkat dan pulang kerja.
Hari ini pun, saya menempuh perjalanan satu jam naik subway untuk berangkat kerja. Meskipun rutinitas komuter ini selalu melelahkan, pemandangan Sungai Han yang mengalir indah yang saya lihat sekilas saat jalan pulang selalu menjadi pelipur lara di akhir hari.

댓글 남기기